FUNNEL MARKETING VS FLYWHEEL MARKETING

FUNNEL MARKETING VS FLYWHEEL MARKETING

Marketing bukanlah ilmu pasti seperti sains, teknologi, atau matematika. Namun, bukan berarti kita hanya bisa mengandalkan perasaan. Ada beberapa Framework yang bisa membantu memperbesar peluang sukses dalam pemasaran. Salah satu pemikiran paling berbahaya adalah beranggapan bahwa marketing cukup dilakukan berdasarkan intuisi semata, tanpa strategi yang terukur.

Marketing adalah perpaduan antara sains dan seni. Meskipun manusia sebagai subjek utama dalam pemasaran bersifat dinamis dan kontekstual, mereka tetap memiliki kecenderungan untuk mengulangi kebiasaan. Inilah alasan mengapa Framework dalam marketing diciptakan, untuk menghadirkan pendekatan yang berulang namun fleksibel.

Memahami Framework Pemasaran
1. Marketing Funnel:
Marketing funnel adalah konsep yang menggambarkan proses yang dilalui konsumen dari tahap awal hingga pembelian. Funnel ini biasanya dibagi menjadi tiga bagian:

Upper Funnel (Awareness): Tahap ini fokus pada membangun kesadaran terhadap brand. Sama seperti menanam benih, kita tidak bisa mengharapkan hasil tanpa terlebih dahulu menanam dan memupuknya.

Middle Funnel (Consideration): Pada tahap ini, konsumen mulai mencari tahu lebih banyak tentang produk. Informasi yang disampaikan lebih mendetail, seperti fitur, harga, dan ulasan.

Bottom Funnel (Conversion): Ini adalah tahap di mana konsumen memutuskan untuk membeli produk.

Tanpa memperbesar upper funnel, sulit untuk meningkatkan penjualan, karena penjualan adalah hasil dari proses yang dimulai dari kesadaran.

2. Flywheel:
Berbeda dengan funnel, flywheel berbentuk lingkaran dan berfokus pada mempertahankan konsumen agar terus terhubung dengan brand. Flywheel terbagi menjadi tiga fase:

Attract: Menarik perhatian konsumen.
Engage: Membangun interaksi dengan brand.
Delight: Membuat konsumen puas sehingga mereka ingin kembali.
Flywheel sangat efektif untuk produk digital yang memiliki data konsumen. Namun, kerangka ini kurang cocok untuk produk offline atau produk yang jarang dibeli.

Kesimpulan:
Memilih kerangka kerja yang tepat sangat penting dan harus disesuaikan dengan karakter produk serta siklus pembeliannya. Memahami perilaku konsumen dan siklus pembelian adalah kunci untuk mengoptimalkan strategi pemasaran. Tanpa itu, sulit untuk mencapai keberhasilan yang berkelanjutan dalam marketing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *